Ringkasan Panduan Puasa Ramadhan Menurut Al Quran dan As-Sunnah

Puasa ramadhan hukumnya adalah wajib sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa ta alla

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”  {Q.S. Al Baqaroh : 183}

 

Adapun kaidah- kaidah dan tata cara berpuasa telah Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam  contohkan. Berikut ini panduan puasa ramadhan sesuai Al Quran dan Sunnah Nabi Sholallohu alaihi wa sallam yang shahih.

  1. Niat

Berniat puasa ramadhan hukumnya wajib itu artinya puasa tanpa adanya niat tidaklah sah. Sebagaimana sabda Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam

من لم يجمع ا لصيام قبل الفجر فلا صيا م له

Artinya : “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa bagi

(HR. Abu Dawud no.2454, Ibnu Khuzaimah no. 1933 sanadnya shahih)

Niat puasa ramadhan dilakukan pada malam hari atau sebelum fajar terbit. Bahwa niat itu letaknya di dalam hati dan tidak dilafazhkan atau di ucapkan, adapun teks niat nawaitu shoma ghadin ‘an adaai fardhi syhri.. ….. dst sebenarnya adalah perkataan Imam Nawawi dalam kitab Roudhatut Tholibin yang oleh sebagian pengikut madzab Syafi’iyyah dijadikan Niat. Apalagi hal tersebut tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi  Muhammad sholallohu alaihi wa sallam dan ratusan ribu para shahabat Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam. Ibadah didasari oleh Ikhlas dan Tuntunan Nabi sholallohu alaihi wa sallam bukan atas dasar kemantapan sebagaimana perkataan sebagian kaum muslimin “ biar  mantep niat di ucapkan tidak apa-apa”.

  1. Sahur

Sahur hukumnya sunnah muakkadah artinya puasa tetap sah apabila tidak sahur, namun demikian sahur sangat ditekan oleh Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam  Karena sahur mengandung keberkahan sebagaimana sabda Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam

تسحروا فا ن في السحوربركة

Artinya : “ Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.’

(HR.  Bukhari dan Muslim no.1095)

السحور أكلة البركة، فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله وملائكته يصلون

على المتسحرين

Artinya : “Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Alloh dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.” (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad)

Jadi janganlah meninggalkan sahur walaupun hanya minum seteguk air sebagaimana sabda Rasululloh shalallohu alaihi wa sallam

تسحروا و لو بجر عة من ماء

Artinya : “Makan sahurlah kalian meskipun hanya dengan seteguk air” ( HR. Abu Ya’la dari sahabat anas diperkuat oleh hadist riwayat Ibnu Hibban no. 884. Sanadnya Hasan)

 

Adapun hal-hal yang disunnahkan pada saat sahur adalah :

  1. Mengakhirkan waktu sahur artinya sahur disunnahkan mendekati waktu fajar atau adzan subuh seperti diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Tsabit rodhiyallohu anhu bahwa jarak Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersahur dengan azdan shubuh sekitar 50 ayat bacaan Al Quran ( kira-kira 10 – 20 menit sebelum adzan subuh,Red ) diriwayatkan Bukhari–Muslim. Jadi tidaklah mengikuti sunnah atau amatlah rugi jika seorang muslim sahurnya 1 jam atau 2 jam sebelum shubuh.
  2. Tidak Berlebihan dalam bersahur
  3. Menghabiskan makanan dan minuman sahur bahkan pernah ada seorang sahabat yaitu Umar bin Khothob rodhiyallohu anhu yang bersahur dan terdengarlah adzan subuh, maka Umar bin Khothob rodhiyallohu anhu  bertanya : “ Apakah aku boleh meminumnya wahai, Rosululloh ?’ Nabi Muhammad shalallohu alaihi wa sallam menjawab: “ Boleh” maka Umar pun meminumnya (HR. Ibnu Jarir) juga dalam sebuah hadist :

ا ذا سمع ا حد كم النداء وا لا نا ء في يده فلا يضعه حتى يقضي حا جته منه

Artinya : “Jika salah seorang diantara kalian mendengar suara adzan sementara bejana di tanganya (sedang menengguk air minum), maka janganlah dia meletakkannya hingga keperluannya terhadap bejana itu  terpenuhi ( melanjutkan minum secukupnya)” ( HR.Abu Dawud no. 235, Baihaqi (II/218), Ahmad no. 423. ) 

  1. Mulai Puasa Saat Terbit Fajar

 

Berpuasa atau berhanti sahur saat terbit fajar Shodiq seperti firman Alloh subhanahu wa ta alla

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Artinya : “Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar.” (QS. Al-Baqarah, 2:187)

            Perlu di ketahui bahwa Fajar itu ada dua

  1. Fajar Kadzib : Fajar berwarna putih panjang menjulur ke atas seperti ekor serigala, bila muncul fajar ini maka belum masuk waktu subuh artinya masih boleh untuk makan dan minum.
  2. Fajar Shodiq : Fajar berwarna merah yang memanjang dan melintang di atas pucuk gunung  atau di langit timur. Inilah fajar yang menandakan bahwa waktu subuh telah datang sehingga mulailah kita berpuasa.
  3. 4.      Berbuka Puasa

Adapun sunnah dari berbuka puasa adalah :

  1. Membaca basmalah sebelum berbuka
  2. Setelah / pada saat sedang berbuka membaca do’a berbuka, jadi membaca do’a berbuka yang benar adalah setelah makan berbuka atau pada tengah-tengah berbuka bukan sebelumnya yaitu  :

ذ هب الظمأ وابتلت العروق وثبت الاجر إن شاء الله ٍ

Artinya : “Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan ahala, insya Alloh”(HR. Abu Dawud, An Nasa’I sanadnya hasan)

Inilah do’a yang shahih menurut As Sunnah, adapun do’a yang ber bunyi Allohumma laka sumtu wa ‘alla rizqika aftortu….dst. Hadist dhoif/lemah karena ada periwayat yang bernama Mu’adz bin Zahroh yang majhul (rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seoarang saja) sehingga para ulama sepakat tidak boleh di amalkan.

  1. Menyegerakan berbuka setelah matahari tenggelam dan tidak menunda-nunda ..berbuka. Didahulukan dari sholat maghrib walaupun berbuka hanya minum atau makan 1 butir kurma, baru sholat maghrib. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abu Darda’ Radhiallohu anhu:

Artinya : “ Ada tiga hal yang termasuk akhlak kenabian : Menyegerakan berbuka puasa, Mengakhirkan sahur, Meletakan tangan kanan di atas tangan kiri  dalam sholat” (HR. At Thobari dalam kitab Al Kabiir sanadnya shahih) ,

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

, لَا يَزَالُ النَّاسَ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ

Artinya :  “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.”   (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1.  Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Di dalam puasa ada perkara-perkara yang merusaknya, yang harus dijauhi oleh seorang yang berpuasa pada siang harinya. Perkara-perkara tersebut adalah:

a. Makan dan minum dengan sengaja sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan makanlah dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih siang dari benang hitam malam dari fajar.” (QS. Al-Baqarah, 2:186)

b. Sengaja untuk muntah (muntah dengan sengaja).

c. Haid dan nifas.

d. Injeksi yang berisi makanan (infus).

e. Bersetubuh.

       6.   Perkara – perkara yang harus di tinggalkan

            Perkara yang mengurangi pahala puasa antara lain :

1. Berkata bohong sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan berkata bohong dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum.” (Riwayat al-Bukhari)

2. Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan) sebagaimana disebutkan dalam hadits

Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّراَبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ،

فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ

Artinya :“Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum. Puasa itu hanyalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah, ‘Saya sedang puasa. Saya sedang puasa.’” (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim)

  1. Perkara-Perkara yang Dibolehkan

Ada beberapa perkara yang dianggap masyarakat tidak boleh padahal dibolehkan, di antaranya:

  • Orang yang junub sampai datang waktu fajar sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan fajar (subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya kemudian mandi dan berpuasa.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
  • Bersiwak/menggosok gigi dengan batang siwak.
  • Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika bersuci ( jangan terlalu bersungguh-sungguh menghirp airnya).
  • Bersentuhan dan berciuman bagi suami istri dan dimakruhkan bagi suami istri yang berusia muda.
  • Injeksi/infus yang bukan berupa zat makanan.
  • Berbekam / kop
  • Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.
  • Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.
  • Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.
  1.  Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah. Oleh karena itu, ia memberikan kemudahan dalam puasa ini kepada orang-orang tertentu yang tidak mampu atau sangat sulit untuk berpuasa. Mereka itu adalah sebagai berikut:

  • Musafir (orang yang sedang dalam perjalanan/bepergian jauh dank e luar kota).
  • Orang yang sakit.
  • Wanita yang sedang haid atau nifas.
  • Orang yang sudah tua dan wanita yang sudah tua dan lemah.
  • Wanita yang hamil atau menyusui.
  1.  Adab Orang yang Berpuasa

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk beradab dengan adab-adab yang syar’i, di antaranya:

  • Memperlambat sahur.
  • Mempercepat berbuka puasa.
  • Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka.
  • Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa.
  • Bersiwak.
  • Berderma dan tadarus Al-Qur’an.
  • Bersungguh-sungguh dalam beribadah khususnya pada sepuluh hari terakhir.

Demikian sedikit ringkasan panduan puasa ramadhan menurut Al Quran dan As Sunnah yang shahih, mudah- mudahan bermanfaat.

Oleh : Ariek Singgih, S.Pd.I

Daftar Pustaka:

    1. Al Qur’an Al Karim
    2. Quran Player
    3. Sifatu Shaumin Nabi Fii Ramadhan, (edisi terjemahan : Meneladani Shaum Rasulullah, Pustaka Imam Syafi’i)
    4. Hadist Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia , Pustaka Al Furqon
    5. Shahih At Targhib W At Tarhib Jilid I , Pustaka Sahifah
    6. Panuan Romadhan, pustaka imam muslim
    7. Ensiklopedia Amalan Sunnah di bulan Hijriyah, pustaka darul ilmi
    8. www. muslim.or.id
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: