<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ariek Singgih</title>
	<atom:link href="http://arieksinggih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arieksinggih.wordpress.com</link>
	<description>Ingat Akhirat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Nov 2011 01:51:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arieksinggih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1341783e3e4cef78b9da92e7e46caba7?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ariek Singgih</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arieksinggih.wordpress.com/osd.xml" title="Ariek Singgih" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arieksinggih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hukum Halal Bi Halal menurut Syariat Islam</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/09/20/hukum-halal-bi-halal-menurut-syariat-islam/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/09/20/hukum-halal-bi-halal-menurut-syariat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 13:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Pengertian Halal Bihalal dan Sejarahnya Secara bahasa, halal bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=519&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pengertian <em>Halal Bihalal</em> dan Sejarahnya</strong></p>
<p>Secara bahasa, <em>halal bihalal</em> adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.</p>
<p>Kata majemuk ini tampaknya memang ‘<em>made in Indonesia’</em>. Kata <em>halal bihalal</em> justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.” <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn1"><sup>[1]</sup></a></p>
<p>Penulis Iwan Ridwan menyebutkan bahwa <em>halal bihalal</em> adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan salat Idul Fitri.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Kadang-kadang, acara <em>halal bihalal</em> juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama.</p>
<p>Konon, tradisi <em>halal bihalal</em> mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April 1725), yang terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sambernyawa’. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah <em>halal bihalal</em>. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan <em>halal bihalal</em>, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn3"><sup>[3]</sup></a><span id="more-519"></span></p>
<p><em>Halal bihalal</em> dengan makna seperti di atas juga tidak ditemukan penyebutannya di kitab-kitab para ulama. Sebagian penulis dengan bangga menyebutkan bahwa <em>halal-bihalal</em> adalah hasil kreativitas bangsa Indonesia dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Indonesia<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn4"><sup>[4]</sup></a>. Namun, dalam kaca mata ilmu agama, hal seperti ini justru patut dipertanyakan; karena semakin jauh suatu amalan dari tuntunan kenabian, ia akan semakin diragukan keabsahannya. Islam telah sempurna dan penambahan padanya justru mengurangi kesempurnannya. Tulisan pendek ini berusaha mengulas keabsahan tradisi <em>halal bihalal</em> menurut pandangan syariah.</p>
<p>Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan <em>halal bihalal</em> bukanlah tradisi saling mengunjungi di hari raya Idul Fitri yang juga umum dilakukan di dunia Islam yang lain. Tradisi ini keluar dari pembahasan tulisan ini, meskipun juga ada acara bermaaf-maafan di sana.</p>
<p><strong>Hari raya dalam Islam harus berlandaskan dalil (tauqifiy)<br />
</strong>Hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya (<em>‘id</em>) sebenarnya lebih dekat kepada bab <em>mu’amalah</em>. Tapi masalah <em>‘id</em> adalah pengecualian, dan dalil-dalil menunjukkan bahwa<em> ‘id</em> adalah tauqifiy (harus berlandaskan dalil). Hal ini karena <em>‘id</em> tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Asy-Syathibi mengatakan:</p>
<p>وإن العاديات من حيث هي عادية لا بدعة فيها، ومن حيث يُتعبَّد بها أو تُوْضع وضْع التعبُّد تدخلها البدعة.</p>
<p>“Dan sungguh adat istiadat dari sisi ia adat, tidak ada bid’ah di dalamnya. Tapi dari sisi ia dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid’ah di dalamnya.” <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn5"><sup>[5]</sup></a></p>
<p>Dan <em>tauqifiy</em> dalam perayaan <em>‘id</em> memiliki dua sisi:</p>
<ol>
<li><em>Tauqifiy</em> dari sisi landasan penyelenggaraan, di mana Nabi –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- membatasi hanya ada dua hari raya dalam satu tahun, dan hal ini berdasarkan wahyu.عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا؛ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ.Anas bin Malik berkata: “Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bermain di dalamnya. Maka beliau bertanya: “Apakah dua hari ini?” Mereka menjawab: “Dahulu kami biasa bermain di dua hari ini semasa Jahiliyah.” Beliaupun bersabda: “<em>Sungguh Allah telah menggantikannya dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.</em>” (HR Abu Dawud no. 1134, dihukumi shahih oleh al-Albani) <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn6"><sup>[6]</sup></a>Maka, sebagai bentuk pengalaman dari hadits ini, pada zaman Nabi –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- dan generasi awal umat Islam tidak dikenal ada perayaan apapun selain dua hari raya ini <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn7"><sup>[7]</sup></a>, berbeda dengan umat Islam zaman ini yang memiliki banyak sekali hari libur dan perayaan yang tidak memiliki landasan syar’i.</li>
<li><em>Tauqifiy</em> dari sisi tata cara pelaksanaannya, karena dalam Islam, hari raya bukanlah sekedar adat, tapi juga ibadah yang sudah diatur tata cara pelaksanaannya. Setiap ibadah yang dilakukan di hari raya berupa shalat, takbir, zakat, menyembelih dan haramnya berpuasa telah diatur. Bahkan hal-hal yang dilakukan di hari raya berupa keleluasaan dalam makan minum, berpakaian, bermain dan bergembira juga tetap dibatasi oleh aturan-aturan syariah <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn8"><sup>[8]</sup></a>.</li>
</ol>
<p><strong>Pengkhususan membutuhkan dalil</strong></p>
<p>Di satu sisi Islam telah menjelaskan tata cara perayaan hari raya, tapi di sisi lain tidak memberi batasan tentang beberapa sunnah dalam perayaan <em>‘id</em>, seperti bagaimana menampakkan kegembiraan, bagaimana berhias dan berpakaian, atau permainan apa yang boleh dilakukan. Syariah Islam merujuk perkara ini kepada adat dan tradisi masing-masing.</p>
<p>Jadi, boleh saja umat Islam berkumpul, bergembira, berwisata, saling berkunjung dan mengucapkan selamat. Bahkan kegembiraan ini perlu ditekankan agar anggota keluarga merasakan hari yang berbeda dan puas karenanya, sehingga mereka tidak tergoda lagi dengan hari besar-hari besar yang tidak ada dasarnya dalam Islam <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn9"><sup>[9]</sup></a>.</p>
<p>Namun mengkhususkan hari Idul Fitri dengan bermaaf-maafan membutuhkan dalil tersendiri. Ia tidak termasuk dalam menunjukkan kegembiraan atau berhias yang memang disyariatkan di hari raya. Ia adalah <em>wazhifah</em> (amalan) tersendiri yang membutuhkan dalil.</p>
<p>Nabi –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- dan para sahabat tidak pernah melakukannya, padahal faktor pendorong untuk bermaaf-maafan juga sudah ada pada zaman mereka. Para sahabat juga memiliki kesalahan kepada sesama, bahkan mereka adalah orang yang paling bersemangat utnuk membebaskan diri dari kesalahan kepada orang lain. Tapi hal itu tidak lantas membuat mereka mengkhususkan hari tertentu untuk bermaaf-maafan.</p>
<p>Jadi, mengkhususkan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan adalan penambahan syariah baru dalam Islam tanpa landasan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p>فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.</p>
<p>“Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- sudah ada jika itu <em>maslahat</em> (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.” <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn10"><sup>[10]</sup></a></p>
<p><strong>Serupa dengan bersalam-salaman setelah shalat dan mengkhususkan ziarah kubur di hari raya</strong></p>
<p>Karena tidak dikenal selain di Indonesia dan baru muncul pada abad-abad terakhir ini, tidak banyak perkataan ulama yang membahas secara khusus tentang <em>halal bihalal</em>. Namun ada masalah lain yang memiliki kesamaan karakteristik dengan <em>halal bihalal</em> dan sudah banyak dibahas oleh para ulama sejak zaman dahulu, yaitu masalah berjabat tangan atau bersalam-salaman setelah shalat dan pengkhususan ziarah kubur di hari raya.</p>
<p>Berjabat tangan adalah sunnah saat bertemu dengan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:</p>
<p>عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاََََ</p>
<p>Dari al-Bara’ (bin ‘Azib) ia berkata: Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- bersabda: “<em>Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.</em>” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani) <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn11"><sup>[11]</sup></a></p>
<p>Tapi ketika sunnah ini dikhususkan pada waktu tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang dilakukan terus menerus setiap selesai shalat, hukumnya berubah; karena pengkhususan ini adalah tambahan syariah baru dalam agama. Di samping itu, bersalama-salaman setelah shalat juga membuat orang tersibukkan dari amalan sunnah setelah shalat yaitu dzikir <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn12"><sup>[12]</sup></a>.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah ditanya tentang masalah ini, maka beliau menjawab: “Berjabat tangan setelah shalat bukanlah sunnah, tapi itu adalah <em>bid’ah</em>, <em>wallahu a’lam</em>“ <sup><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn13">[13]</a>.</sup></p>
<p>Lebih jelas lagi, para ulama menghitung pengkhususan ziarah kubur di hari raya termasuk bid’ah<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn14"><sup>[14]</sup></a> ,padahal ziarah kubur juga merupakan amalan yang pada dasarnya dianjurkan dalam Islam, seperti dijelaskan dalam hadits berikut:</p>
<p>عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَة</p>
<p>Dari Buraidah (al-Aslami) ia berkata: Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- bersabda: “<em>Sungguh aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah; karena ia mengingatkan akhirat.</em>” (HR Ashhabus Sunan, dan lafazh ini adalah lafazh Ahmad (no. 23.055) yang dihukumi shahih oleh Syu’aib al-Arnauth)</p>
<p>Demikian pula berjabat tangan dan bermaaf-maafan adalah bagian dari ajaran Islam. Namun ketika dikhususkan pada hari tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang terus menerus dilakukan setiap tahun, hukumnya berubah menjadi tercela. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Beberapa pelanggaran syariah dalam <em>halal bihalal</em></strong></p>
<p>Di samping tidak memiliki landasan dalil, dalam <em>halal bihalal</em> juga sering didapati beberapa pelanggaran syariah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Mengakhirkan permintaan maaf hingga datangnya Idul Fitri. Ketika melakukan kesalahan atau kezhaliman pada orang lain, sebagian orang menunggu Idul Fitri untuk meminta maaf, seperti disebutkan dalam ungkapan yang terkenal “urusan maaf memaafkan adalah urusan hari lebaran”. Dan jadilah “mohon maaf lahir batin” ucapan yang “wajib” pada hari Raya Idul Fitri. Padahal belum tentu kita akan hidup sampai Idul Fitri dan kita diperintahkan untuk segera menghalalkan kezhaliman yang kita lakukan, sebagaimana keterangan hadits berikut:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِDari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- bersabda: “<em>Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”</em>. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)</li>
<li><em>Ikhtilath </em>(campur baur lawan jenis) yang bisa membawa ke maksiat yang lain, seperti pandangan haram dan zina. Karenanya, Nabi –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- melarangnya, seperti dalam hadits Abu Usaid berikut:عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلنِّسَاءِ « اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّرِيقِ ». فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.Dari Abu Usaid al-Anshari ia mendengar Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- berkata saat keluar dari masjid dan kaum pria bercampur baur dengan kaum wanita di jalan. Maka beliau mengatakan kepada para wanita: “<em>Mundurlah kalian, kalian tidak berhak berjalan di tengah jalan, berjalanlah di pinggirnya.” Maka para wanita melekat ke dinding, sehingga baju mereka menempel di dinding, saking lekatnya mereka kepadanya”</em>. (HR. Abu Dawud no. 5272, dihukumi hasan oleh al-Albani) <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn15"><sup>[15]</sup></a></li>
<li>Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Maksiat ini banyak diremehkan oleh banyak orang dalam <em>halal bihalal</em>atau kehidupan sehari-hari, padahal keharamannya telah dijelaskan dalam hadits berikut:عن مَعْقِل بن يَسَارٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ”Dari Ma’qil bin Yasar ia berkata: Rasulullah –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- bersabda: “<em>Sungguh jika seorang di antara kalian ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”.</em> (HR. ath-Thabrani, dihukumi shahih oleh al-Albani) <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn16"><sup>[16]</sup></a>
<p>Al-Albani berkata: “Ancaman keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Di dalamnya terkandung dalil haramnya menjabat tangan wanita, karena tidak diragukan lagi bahwa berjabat tangan termasuk menyentuh. Banyak umat Islam yang jatuh dalam kesalahan ini, bahkan sebagian ulama.” <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftn17"><sup>[17]</sup></a></li>
</ol>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam <em>halal bihalal</em> adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas. Selain di Indonesia, pertemuan yang umum disebut <em>mu’ayadah</em> (saling mengucapkan selamat <em>‘id</em>) ini juga ada di belahan dunia Islam lain tanpa pengingkaran dari ulama.</p>
<p>Bagi yang mengatakan “<em>ah, cuma begini saja kok tidak boleh!</em>“, ingatlah bahwa Nabi –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>- menyebut setiap perkara baru dalam agama sebagai <em>syarrul umuur</em> (seburuk-buruk perkara). Maka bagaimana kita bisa meremehkannya? Setiap muslim harus berhati-hati dengan perkara-perkara baru yang muncul belakangan. Amalkanlah sunnah dan Islam yang murni, karena itulah wasiyat Nabi tercinta –<em>shallallah ‘alaih wasallam</em>-. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>—</p>
<p><a id="#_ftn1" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref1">[1]</a> http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/<br />
<a id="#_ftn2" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref2">[2]</a> http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/<br />
<a id="#_ftn3" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref3">[3]</a> http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/<br />
<a id="#_ftn4" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref4">[4]</a> http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/<br />
<a id="#_ftn5" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Al-I’tisham,</em> 2/98<br />
<a id="#_ftn6" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Shahih Sunan Abi Dawud,</em> 4/297<br />
<a id="#_ftn7" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref7">[7]</a> <em>Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,</em> 1/499<br />
<a id="#_ftn8" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Mi’yarul Bid’ah</em> hal. 262<br />
<a id="#_ftn9" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,</em> 2/6<br />
<a id="#_ftn10" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,</em> 2/101<br />
<a id="#_ftn11" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref11">[11]</a> <em>As-Silsilah ash-Shahihah,</em> 2/24 no. 525<br />
<a id="#_ftn12" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Fatawa Syaikh Abdullah bin ‘Aqiel,</em> 1/141.<br />
<a id="#_ftn13" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref13">[13]</a> <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah,</em> 23/339<br />
<a id="#_ftn14" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref14">[14]</a> <em>Al-A’yad wa Atsaruha ‘alal Muslimin,</em> hal. 247<br />
<a id="#_ftn15" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref15">[15]</a> <em>As-Silsilah ash-Shahihah,</em> 2/355 no. 856<br />
<a id="#_ftn16" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Ghayatul Maram,</em> 1/137<br />
<a id="#_ftn17" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Majmu’ Fatawa al-Albani,</em> 1/220 (asy-Syamilah)</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin MA.<br />
Artikel <a title="Halal Bi Halal" href="http://muslim.or.id/">Muslim.Or.Id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=519&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/09/20/hukum-halal-bi-halal-menurut-syariat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah Dengan Uang Tidak SAH</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/08/16/zakat-fitrah-dengan-uang-tidak-sah/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/08/16/zakat-fitrah-dengan-uang-tidak-sah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 02:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tidak ragu lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang hanif (lurus) ini adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah’. Konsekuensi dari syahadat laa ilaha illallah ini adalah seseorang harus menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat ‘Muhammad adalah Rasul-Nya’ yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=515&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak ragu lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang hanif (lurus) ini adalah syahadat ‘<em>Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah</em>’. Konsekuensi dari syahadat <em>laa ilaha illallah</em> ini adalah seseorang harus menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat ‘<em>Muhammad adalah Rasul-Nya</em>’ yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah hanya dengan menggunakan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (Telah kita ketahui bersama) bahwa zakat fithri adalah ibadah berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Dan hukum asal ibadah adalah <em>tauqifi</em> (harus berlandaskan dalil).  Oleh karena itu, setiap orang hanya dibolehkan melaksanakan suatu ibadah dengan menggunakan syari’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah telah mengatakan mengenai Nabi-Nya ini,</p>
<div>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى</div>
<p>“<em>Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.</em><em> </em><em>Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>.” (QS. An Najm [53] : 3-4) <span id="more-515"></span><br />
Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>juga bersabda,</p>
<div>مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</div>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<div>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</div>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”</em> (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga telah menjelaskan mengenai penunaian zakat fithri –sebagaimana terdapat dalam hadits yang shohih- yaitu ditunaikan dengan 1 sho’ bahan makanan, kurma, gandum, kismis, atau keju. Bukhari dan Muslim <em>–rahimahumallah-</em> meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar –<em>radhiyallahu ‘anhuma</em>-, beliau berkata,</p>
<div>فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</div>
<p>”<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri </em><em>berupa </em><em>satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.</em><em> Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘ied.</em>” (HR. Bukhari no. 1503).</p>
<p>Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<div>كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ</div>
<p>“<em>Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’ kismis</em>.” (HR. Bukhari no. 1437 dan Muslim no. 985)<br />
Dalam riwayat lain dari Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985 disebutkan,</p>
<div>أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ</div>
<p>“<em>Atau 1 sho’ keju</em>.”</p>
<p>Inilah hadits yang disepakati keshohihannya dan beginilah sunnah (ajaran) Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam menunaikan zakat fithri. Telah kita ketahui pula bahwa ketika pensyari’atan dan dikeluarkannya zakat fithri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin –khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <sup>pen</sup>)-. Namun, <strong>beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fithri</strong>. Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –<em>radhiyallahu ‘anhum</em>- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<div>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</div>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em>”(QS. Al Ahzab : 21)</p>
<p>Allah<em> Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<div>وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</div>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.</em>” (QS. At Taubah [9] : 100)</p>
<p>Dari penjelasan kami di atas, maka jelaslah bagi orang yang mengenal kebenaran bahwa <strong>menunaikan zakat fithri dengan uang tidak diperbolehkan dan tidak sah</strong> karena hal ini telah menyelisihi berbagai dalil yang telah kami sebutkan. <em>Aku memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agamanya, agar tetap teguh dalam agama ini, dan waspada terhadap berbagai perkara yang menyelisihi syari’at Islam. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </em>(Sumber: <strong><em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em></strong>, 14/208-211)<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Peringatan</strong>:</p>
<p>Melalui penjelasan di atas kami rasa sudah cukup jelas bahwa pembayaran zakat fithri dengan uang tidaklah tepat. Inilah pendapat mayoritas ulama termasuk madzhab Syafi’iyah yang dianut oleh kaum muslimin Indonesia. An Nawawi mengatakan, “Mayoritas pakar fikih tidak membolehkan membayar zakat fithri dengan <em>qimah</em> (dicocokkan dengan harganya), yang membolehkan hal ini hanyalah Abu Hanifah.” (<em>Syarh Muslim, </em>3/417). Namun, sayangnya kaum muslimin Indonesia yang mengaku bermadzhab Syafi’i menyelisihi imam mereka dalam masalah ini. Malah dalam zakat fithri, mereka manut madzhab Abu Hanifah. Ternyata dalam masalah ini, kaum muslimin Indonesia tidaklah konsisten dalam bermadzhab.</p>
<p>Kami hanya bisa menghimbau kepada saudara-saudara kami selaku Badan Pengurus Zakat agar betul-betul memperhatikan hal ini. Tidakkah kita merindukan syi’ar Islam mengenai zakat ini nampak? Dahulu, di malam hari Idul Fithri, banyak kaum muslimin berbondong-bondong datang ke masjid-masjid dengan menggotong beras. Namun, syiar ini sudah hilang karena tergantikan dengan uang. <em> </em></p>
<p><em>Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memudahkan mereka mengikuti syari’at-Nya. (Perkataan Nabi Syu’aib) : ‘Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.’</em></p>
<p>www.rumaysho.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=515&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/08/16/zakat-fitrah-dengan-uang-tidak-sah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Tahajud</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/06/08/sholat-tahajud/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/06/08/sholat-tahajud/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 03:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Hukum, Waktu dan Jumlah Rokaat Sholat Malam Hukum sholat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya. Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=512&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hukum, Waktu dan Jumlah Rokaat Sholat Malam</strong></p>
<p>Hukum sholat malam adalah <em>sunah muakkad</em>. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.</p>
<p>Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Sholat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.”</em> (HR. Bukhori dan Muslim). Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah <em>radhiyallohu ‘anha</em>, <em>“Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.”</em> (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.</p>
<p><strong>Keutamaan Sholat Malam</strong></p>
<p>Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.”</em> (QS. Adz Dzariyat: 17-18)</p>
<p>Karena pentingnya sholat malam ini Alloh berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, <em>“Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”</em> (QS. AlMuzammil: 1-4)<span id="more-512"></span></p>
<p>Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.</p>
<p>1. Sebab masuk surga.</p>
<p>Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.”</em> (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)</p>
<p>2. Menaikkan derajat di surga.</p>
<p>Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.”</em> (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)</p>
<p>3. Penghapus dosa dan kesalahan.</p>
<p>Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.”</em> (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)</p>
<p>4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.</p>
<p>Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.</p>
<p>Ketika Jibril datang pada Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> lalu berkata, <em>“Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.”</em> (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)</p>
<p>Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan sholat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Alloh sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rosululloh ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.”</em> Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? <em>Wallohu Musta’an.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Abdillah Rudi Agus H.<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=512&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/06/08/sholat-tahajud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum CADAR Menurut Ulama 4 Madzhab</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/27/hukum-cadar-menurut-ulama-4-madzhab/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/27/hukum-cadar-menurut-ulama-4-madzhab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 02:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah. Berikut ini sengaja kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=508&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah.</p>
<p>Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.<span id="more-508"></span></p>
<p><strong>Madzhab Hanafi</strong></p>
<p>Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.</p>
<p>* Asy Syaranbalali berkata:</p>
<p>وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار</p>
<p>“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan <em>Nuurul Iidhah</em>)</p>
<p>* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:</p>
<p>وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة</p>
<p>“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (<em>Ad Durr Al Muntaqa</em>, 81)</p>
<p>* <em>Al Allamah</em> Al Hashkafi berkata:</p>
<p>والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب</p>
<p>“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (<em>Ad Durr Al Mukhtar</em>, 2/189)</p>
<p>* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:</p>
<p>تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة</p>
<p>“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (<em>Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar</em>, 3/188-189)</p>
<p>* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:</p>
<p>قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة</p>
<p>“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (<em>Al Bahr Ar Raaiq</em>, 284)</p>
<p>Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?</p>
<p><strong>Madzhab Maliki</strong></p>
<p>Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.</p>
<p>* Az Zarqaani berkata:</p>
<p>وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني</p>
<p>“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat <em>amraad</em>. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (<em>Syarh Mukhtashar Khalil</em>, 176)</p>
<p>* Ibnul Arabi berkata:</p>
<p>والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها</p>
<p>“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (<em>Ahkaamul Qur’an</em>, 3/1579)</p>
<p>* Al Qurthubi berkata:</p>
<p>قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها</p>
<p>“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (<em>Tafsir Al Qurthubi</em>, 12/229)</p>
<p>* Al Hathab berkata:</p>
<p>واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح</p>
<p>“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (<em>Mawahib Jaliil</em>, 499)</p>
<p>* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:</p>
<p>وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب</p>
<p>“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab <em>Ightimamul Furshah</em>, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab <em>Syarhul Waghlisiyyah</em> merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah” (<em>Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, </em>176)</p>
<p><strong>Madzhab Syafi’i</strong></p>
<p>Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat <em>mu’tamad</em> madzhab Syafi’i.</p>
<p>* Asy Syarwani berkata:</p>
<p>إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ</p>
<p>“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang <em>mu’tamad</em>, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (<em>Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj</em>, 2/112)</p>
<p>* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:</p>
<p>غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن</p>
<p>“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (<em>Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj</em>, 411)</p>
<p>* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis <em>Fathul Qaarib</em>, berkata:</p>
<p>وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها</p>
<p>“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (<em>Fathul Qaarib</em>, 19)</p>
<p>* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:</p>
<p>فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا</p>
<p>“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (<em>Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj</em>, 3/115)</p>
<p>* Taqiyuddin Al Hushni, penulis <em>Kifaayatul Akhyaar</em>, berkata:</p>
<p>ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب</p>
<p>“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (<em>Kifaayatul Akhyaar</em>, 181)</p>
<p><strong>Madzhab Hambali</strong></p>
<p>* Imam Ahmad bin Hambal berkata:</p>
<p>كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر</p>
<p>“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam <em>Zaadul Masiir</em>, 6/31)</p>
<p>* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis <em>Raudhul Murbi’</em>, berkata:</p>
<p>« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة</p>
<p>“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab <em>Ar Ri’ayah</em>… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (<em>Raudhul Murbi’</em>, 140)</p>
<p>* Ibnu Muflih berkata:</p>
<p>« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها</p>
<p>“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, <em>janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat</em>‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan <em>khuf</em> (semacam kaus kaki), karena <em>khuf</em> itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’” (<em>Al Furu’</em>, 601-602)</p>
<p>* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan <em>Al Iqna’</em> , ia berkata:</p>
<p>« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »</p>
<p>“’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (<em>Kasyful Qanaa’</em>, 309)</p>
<p>* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:</p>
<p>القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر الوجه عن الرجال الأجانب</p>
<p>“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki <em>ajnabi</em>” (<em>Fatawa Nurun ‘Alad Darb</em>, <a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml">http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml</a>)</p>
<p><strong>Cadar Adalah Budaya Islam</strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.</p>
<p>Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :</p>
<p>1.     Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan <em>tabarruj</em>. Oleh karena itu Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ</p>
<p>“<em>Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu</em>” (QS. Al Ahzab: 33)</p>
<p>Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah <em>Shallalahu’alihi Wasallam</em> belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.</p>
<p>2.     Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah <em>Shallalahu’alaihi Wasallam </em>seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah <em>Radhiallahu’anha</em> berkata:</p>
<p>مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا</p>
<p>“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “<em>Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.</em>” (QS. Al Ahzab: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)</p>
<p>Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.</p>
<p>Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.</p>
<p>—</p>
<p>Penukilan pendapat-pendapat para ulama di atas merupakan kesungguhan dari akhi Ahmad Syabib dalam forum <em>Fursanul Haq</em> (<a href="http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=83503">http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=83503</a>)</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://kangaswad.wordpress.com/">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=508&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/27/hukum-cadar-menurut-ulama-4-madzhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Walikota Macon AS Masuk Islam</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/12/walikota-macon-as-masuk-islam/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/12/walikota-macon-as-masuk-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 12:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[AMERIKA &#8211; Ketika Jack Ellis menyatakan masuk Islam pada bulan Mei 2011, pemberitaannya menghiasi berbagai media massa AS dan sejumlah media massa internasional. Tak heran jika keputusannya masuk Islam menjadi buah bibir, karena pada saat itu Ellis masih menjabat sebagai walikota Macon, negara bagian Georgia, AS. Ellis yang semula menganut agama Kristen, hijrah menjadi seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=504&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AMERIKA &#8211; Ketika Jack Ellis menyatakan masuk Islam pada bulan Mei 2011, pemberitaannya menghiasi berbagai media massa AS dan sejumlah media massa internasional. Tak heran jika keputusannya masuk Islam menjadi buah bibir, karena pada saat itu Ellis masih menjabat sebagai walikota Macon, negara bagian Georgia, AS.</p>
<p align="justify">Ellis yang semula menganut agama Kristen, hijrah menjadi seorang Muslim setelah bertahun-tahun mempelajari al-Quran.</p>
<p align="justify">Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara kecil di Senegal, Afrika Barat. Setelah masuk Islam, Ellis mengurus status hukum perubahan namanya dari Jack Ellis menjadi Hakim Mansour Ellis. Ia tetap menggunakan nama keluarganya atas permintaan kedua puterinya.</p>
<p align="justify">Ellis pertama kali terpilih sebagai walikota Macon pada 14 Desemberr 1999 sampai tahun 2003. Ia kemudian terpilih kembali menjadi walikota Macon dan menjabat sampai bulan Desember tahun 2007. Ellis adalah warga kulit hitam pertama yang terpilih sebagai walikota Macon sepanjang 176 tahun sejarah kota itu. <span id="more-504"></span></p>
<p align="justify">&#8220;Saya kembali ke akar saya setelah bertahun-tahun melakukan perenungan,&#8221; kata Ellis saat ditanya mengapa ia memilih pindah ke agama Islam.</p>
<p align="justify">Ia melanjutkan, &#8220;Mengapa seseorang menganut Kristen? Anda melakukannya karena Anda merasa melakukan hal yang benar &#8230; Buat saya, hal itu bukan persoalan besar. Tapi orang banyak ingin tahu apa yang Anda yakini.&#8221;</p>
<p align="justify">Ellis mengatakan, ia mempelajari al-Quran selama bertahun-tahun dan ia merasa menemukan tujuan hidupnya dalam Islam saat ia berkunjung ke Senegal, Afrika Barat. Menurut Ellis, nenek-nenek moyangnya sudah memeluk agama Islam sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara sebagai budak.</p>
<p align="justify">Setelah menjadi seorang Muslim, ayah dari lima anak itu mulai membiasakan diri untuk menunaikan salat lima waktu dan secara rutin berkunjung ke Islamic Center di Bloomfield Road. Ellis mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS.</p>
<p align="justify">&#8220;Kami meyakini Rasulullah Muhammad saw sebagai Nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai seorang Nabi,&#8221; ujar Ellis.</p>
<p align="justify">Hakim Mansour Ellis lahir tanggal 6 Januari 1946 di Macon. Ia mengantongi gelar sarjana di bidang seni dari St. Leo College di Florida. Ellis pernah bertugas di dinas kemiliteran AS selama dua tahun dan ikut dikirim ke Perang Vietnam dalam Divisi ke-101 Angkatan Udara AS dengan pangkat Sersan. Atas jasa-jasanya di kemiliteran, Ellis mendapatkan sejumlah penghargaan antara lain tiga penghargaan Bronze Star dan penghargaan Purple Heart.</p>
<p align="justify">Ellis mengaku merasa jiwanya merasa tentram dan damai setelah masuk Islam. Ellis juga merasa tidak perlu menyembunyikan keislamannya dari publik yang telah memilihnya sebagai walikota Macon, walaupun keputusan memeluk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi sifatnya,</p>
<p align="justify">&#8220;Ini adalah keputusan yang sangat personal, tapi saya juga memahami bahwa saya seorang publik figur. Sebagai walikota, saya pikir masyarakat berhak tahu apa yang saya yakin, dan sebagai orang yang beriman dan iman yang yakini sekarang adalan Islam,&#8221; jelas Ellis.</p>
<p align="justify">Selama menjabat sebagai walikota Macon, Ellis dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kota itu. Ia menggunakan bantuan dari negara bagian dan Federal untuk membantu latihan kerja bagi anak-anak muda, membuat program pengarahan, penyuluhan, program usai sekolah dan program untuk mengurangi jumlah kriminalitas di kota itu.</p>
<p>&#8220;Saya tetap berbagi dengan keluarga besar saya, komunitas Macon yang mendukung saya ketika saya masih menjadi seorang Kristiani dan masih mempercayai saya hingga kini. Saya masih orang yang sama meski saya mengganti nama saya,&#8221; tukas Ellis. (smc/an)</p>
<p>alsofwah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=504&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/05/12/walikota-macon-as-masuk-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEJARAH HARI VALENTINE’S  and HUKUM MERAYAKANNYA</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/02/08/negeri-yang-malang/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/02/08/negeri-yang-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 22:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Marilah kita selalu berfikir ilmiah dan sesuai dengan fakta jangan hanya ikut-ikutan saja, karena ikut-ikutan saja tanpa mengetahui dasar dan ilmunya bagaikan orang yang tersesat perjalannya. Simaklah dahulu sebuah tulisan berikut sebelum berkomentar dan berpendapat selamt membaca Didalam sebuah buku berjudulThe World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=423&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arieksinggih.files.wordpress.com/2010/01/bunga.jpg"><img class="size-full wp-image-425 alignleft" title="bunga" src="http://arieksinggih.files.wordpress.com/2010/01/bunga.jpg?w=468" alt=""   /></a>Marilah kita selalu berfikir ilmiah dan sesuai dengan fakta jangan hanya ikut-ikutan saja, karena ikut-ikutan saja tanpa mengetahui dasar dan ilmunya bagaikan  orang yang tersesat  perjalannya. Simaklah dahulu sebuah tulisan berikut sebelum berkomentar dan berpendapat selamt membaca</p>
<p>Didalam sebuah buku berjudulThe World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :<br />
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine&#8217;s Day probably came from a combination of all three of those sources&#8211;plus the belief that spring is a time for lovers.”</p>
<p>Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. <span id="more-423"></span></p>
<p>Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat Buku The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari ( lihat Buku: The World Book Encyclopedia 1998).</p>
<p>Dalam Sebuah buku The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.<br />
versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.</p>
<p>Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).</p>
<p>Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!</p>
<p>Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-putri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (Al Isra&#8217; : 36).</p>
<p>HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE</p>
<p>Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”</p>
<p>Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah n berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).</p>
<p>Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan :<br />
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.</p>
<p>Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”<br />
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.</p>
<p>Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,<br />
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)<br />
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.</p>
<p>Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman, yang artinya:<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)<br />
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)</p>
<p>Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.<br />
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.</p>
<p>Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.</p>
<p>Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.</p>
<p>Semoga Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan:<br />
“Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (Al-Hadits).</p>
<p>*Di edit dan disadur dari berbagai sumber terutama dari :</p>
<p>- www.wikipedia.org<br />
- www.muslim.or.id<br />
- www.muslimah.or.id<br />
- www.arieksinggih.wordpress.com<br />
- dll</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=423&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2011/02/08/negeri-yang-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arieksinggih.files.wordpress.com/2010/01/bunga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jin Membunuh Manusia?!</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/21/jin-membunuh-manusia/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/21/jin-membunuh-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 12:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin nggak ya&#8230; coba baca tanya jawab berikut yang sesuai syariat Islam&#8230; Pertanyaan : Aku mendengar banyak kisah tentang penculikan manusia yang dilakukan oleh jin. Aku membaca kisah yang isinya bahwa seorang dari anshar keluar untuk shalat Isya’, lalu jin menawannya dan hilang selama bertahun-tahun. Apakah perkara ini mungkin, yakni penculikan manusia yang dilakukan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=487&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin nggak ya&#8230; coba baca tanya jawab berikut yang sesuai syariat Islam&#8230;</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Aku mendengar banyak kisah tentang penculikan manusia yang dilakukan oleh jin. Aku membaca kisah yang isinya bahwa seorang dari anshar keluar untuk shalat Isya’, lalu jin menawannya dan hilang selama bertahun-tahun. Apakah perkara ini mungkin, yakni penculikan manusia yang dilakukan oleh jin ? <span id="more-487"></span></p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p>Hal itu bisa terjadi. Sebab, sudah masyhur bahwa Sa’ad bin Ubadah dibunuh jin ketika kencing pada batu yang menjadi tempat tinggal mereka. Mereka mengatakan :</p>
<p><em>Kami membunuh pemimpin khazraj, Sa’ad bin Ubadah</em><br />
<em>Kami memanahnya dengan panah tepat pada hatinya</em></p>
<p>Terjadi pada masa kekhalifahan Umar bahwa seseorang diculik oleh jin dan tinggal selama empat tahun (sebagai tawanan). Kemudian ia datang dan menceritakan bahwa para jin musyrik telah menculiknya dan ia tinggal di sisi mereka sebagai tawanan. Kemudian para jin muslim menyerbu lalu berhasil mengalahkan mereka dan mengembalikannya kepada keluarganya. Ini disebutkan dalam Manar as-Sabil, wallahu a’lam.</p>
<p>( <em>Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin, yang ditandatanganinya.</em> )</p>
<p><strong>Sumber :</strong> Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 3, hal: 430, cet: Darul Haq Jakarta, diposting oleh Yusuf Al-Lomboky</p>
<p>www.alsofwah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=487&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/21/jin-membunuh-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara awal Menjauhkan Anak dari TV</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/02/cara-awal-menjauhkan-anak-dari-tv/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/02/cara-awal-menjauhkan-anak-dari-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 12:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ini sebagian cara awal untuk menjauhkan anak dari televisi&#8230;. Jauhkan mengizinkan anak menonton televisi lebih dari satu jam per hari. Adapun anak yan masih menyusui ASI (anak di bawah usia dua tahun), dokter menyarankan agar ketika menyusui, ibu tidak memposisikan anak berhadapan dengan televisi karena pertumbuhan fungsi otak anak masih belum sempurna. Jadikanlah apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=482&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mungkin ini sebagian cara awal untuk menjauhkan anak dari televisi&#8230;.<br />
</strong></p>
<ul>
<li>Jauhkan mengizinkan anak menonton televisi lebih dari satu jam per   hari. Adapun anak yan masih menyusui ASI (anak di bawah usia dua tahun),   dokter menyarankan agar ketika menyusui, ibu tidak memposisikan anak   berhadapan dengan televisi karena pertumbuhan fungsi otak anak masih   belum sempurna.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jadikanlah apa yang ditonton anak sebagai kesempatan bagi orang tua   untuk menajarkannya; perbuatan mana yang benar dan yang salah.</li>
<li>Berikanlah kepada anak kegiatan sosial di dalam atau di luar rumah  dan berikanlah hiburan pengganti.</li>
<li>Penting sekali bagi orang tua untuk memberikan contoh kepada anak   supaya tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan   bertentangan dengan agama.</li>
<li>Janganlah menggunakan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak,   atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman. Menurut persaksian para   ibu-yang turut menjawab angket yang disebarkan- ada di antara mereka   yang menjadika tontonan televisi sebagai cara untuk memberikan ganjaran   atau hukuman bagi anak!</li>
<li>Tanamkanlah pada diri anak untuk menghargai waktu melalui ucapan dan   praktik agar anak tidak menghabiskan waktu di depan televisi.</li>
<li>Pastikanlah anak meminta izin terlebih dahulu sebelum menghidupkan   televisi, tentunya setelah orang tua membatasi program acara televisi   apa saja yang boleh ditonton anak dan menentukan waktu untuk menonton;   selama tidak lebih dari satu jam. Yang terpenting lagi, biasakanlah anak   menonton televisi sambil duduk.</li>
<li>Berikanlah hadiah per minggu bagi anggota keluarga yang paling  jarang menonton televisi dalam seminggu.</li>
<li>Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton   televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton sejauh enam   kaki (l.k. dua meter), layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di   bawahnya, dan ruang tempat menonton haru terang untuk menetralisasi   cahaya yang memancar dari layar televisi.</li>
</ul>
<p>Ditulis ulang dari Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim karya  Hidayatullah binti Ahmad, penerbit Fikr.</p>
<p>Penyadur: <a href="http://ikhwanmuslim.com/">Muhammad Nur Ichwan</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/482/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=482&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/12/02/cara-awal-menjauhkan-anak-dari-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasib Pembakar Al Quran</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/09/24/nasib-pembakar-al-quran/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/09/24/nasib-pembakar-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 13:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[LONDON&#8211;Habis jatuh tertimpa tangga pula. Setelah nyawanya terancam kini giliran pastor Terry Jones yang menggagas hari membakar Alquran itu menghadapi tagihan 100 ribu poundsterling untuk membayar jasa keamanan polisi. Lebih dari 200 polisi termasuk anggota Tim SWAT yang mengawasi Jones di luar Gereja Florida. Perlindungan ini dilakukan untuk mengamankan Jones dari segala kemungkinan penyerangan terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=476&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LONDON&#8211;Habis jatuh tertimpa tangga pula. Setelah nyawanya terancam kini giliran pastor Terry Jones yang menggagas hari membakar Alquran itu menghadapi tagihan 100 ribu poundsterling untuk membayar jasa keamanan polisi. Lebih dari 200 polisi termasuk anggota Tim SWAT yang mengawasi Jones di luar Gereja Florida.</p>
<p>Perlindungan ini dilakukan untuk mengamankan Jones dari segala kemungkinan penyerangan terhadap dirinya. Sayangnya, Jones tidak ada niatan membayar tagihan yang diberikan pemerintah lokal Gainville atas ulahnya itu. &#8220;Jika kami tahu ini sebelumnya, maka kami akan menolak untuk diberikan pengamanan,&#8221; ujar Jones seperti dikutip dailymail, Senin (20/9). Tagihan juga datang dari kepolisian setempat yang meminta bayaran kepada Jones sebesar 50 ribu poundsterling atas jasa kepolisian yang menjaganya 24 jam.<span id="more-476"></span></p>
<p>Seperti diberitakan, Jones dan anggota jamaah Gereja kecil di Gainesville, Florida berencana membagikan 200 salinan Alquran untuk dibakar dalam peringatan tragedi 11 September. Ide pembakaran ini membuat berang Menteri Pertahanan AS RObert Gates. Gates saat itu mengkhawatirkan ide Jones akan membahayakan keselamatan tentara AS yang sedang bertugas di Afghanistan. Tekanan dari Obama dan Vatikan pada akhirnya membatalkan niat Jones. Sayangnya, ibarat nasi menjadi bubur, sejumlah pembakaran Alquran terjadi diberbagai wilayah di AS.</p>
<p>Kini Jones terancam bangkrut. Dengan jemaah yang tidak begitu besar yakni hanya 40 orang, Jones kemungkinan besar tidak akan mampu membayar tagihan itu. Sempat ada wacana dari Jones untuk menjual Gereja dan pindah ke tempat yang lebih besar.</p>
<p>Tampaknya rencana itu bakalan batal terlaksana. Apalagi pemerintah lokal Gainesville telah menyatakan Jones adalah pihak yang bertanggung jawab atas layanan polisi yang langsung diberikan kepada gereja pascapengumuman ide pembakaran Alquran. Keamanan ini diberikan berdasar peringatan Biro Investigas AS, FBI, atas kemungkinan ancaman teror sebagai serangan balasan.(rpblk) alsofwah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=476&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/09/24/nasib-pembakar-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/07/17/keutamaan-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/07/17/keutamaan-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 12:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariek singgih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieksinggih.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Sebentar lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Sudah saatnya kita mempersiapkan ilmu untuk menyongsong bulan tersebut. Insya Allah, kesempatan kali ini dan selanjutnya, muslim.or.id mulai menampilkan artikel-artikel seputar puasa Ramadhan. Semoga dengan persiapan ilmu ini, ibadah Ramadhan kita semakin lebih baik dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=472&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.</em></p>
<p>Sebentar lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Sudah saatnya kita mempersiapkan ilmu untuk menyongsong bulan tersebut. Insya Allah, kesempatan kali ini dan selanjutnya, muslim.or.id mulai menampilkan artikel-artikel seputar puasa Ramadhan. Semoga dengan persiapan ilmu ini, ibadah Ramadhan kita semakin lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p><strong>Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an</strong></p>
<p>Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu</em>.” (QS. Al Baqarah: 185)<span id="more-472"></span></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah <em>Ta’ala</em> memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi <em>’alaihimus salam</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn1">[1]</a><strong></strong></p>
<p><strong>Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ</p>
<p>”<em>Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong></strong><strong>Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan</strong></p>
<p>Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3</p>
<p>”<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan</em>.” (QS. Al Qadr: 1-3).</p>
<p>Dan Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p dir="rtl">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ</p>
<p>”<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan</em>.” (QS. Ad Dukhan: 3). Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari <em>rahimahullah</em><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn4">[4]</a>. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ</p>
<p>”<em>Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan</em>.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ</p>
<p>“<em>Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi</em>”.<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn7">[7]</a> An Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn8">[8]</a> An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”<a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Raihlah berbagai keutamaan di bulan tersebut, wahai Saudaraku!</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin meningkatkan amalan sholih di bulan Ramadhan.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2/179.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref3">[3]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref4">[4]</a> Tafsir Ath Thobari, 21/6.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref5">[5]</a> Zaadul Masiir, 7/336-337.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami’ul Ahadits, 9/224.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref7">[7]</a> HR. At Tirmidzi no. 3598. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref8">[8]</a> Al Majmu’, 6/375.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/ramadhan/keutamaan-bulan-ramadhan.html#_ftnref9">[9]</a> Idem.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arieksinggih.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arieksinggih.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arieksinggih.wordpress.com&amp;blog=4206786&amp;post=472&amp;subd=arieksinggih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieksinggih.wordpress.com/2010/07/17/keutamaan-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuipah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
