Dalam lingkungan pendidikan dan pembelajaran teknologi dapat menjadikan siswa untuk:

  • Mampu menjadi pengguna teknologi informasi
  • Mencari informasi yang dibutuhkan
  • Memecahkan masalah yang dihadapi siswa
  • Menjadi komunikator
  • Menjadi warganegara yang baik

Melalui penggunaan teknologi dalam pembelajaran diharapkan pembelajaran tersebut lebih efektif dan menyenangkan, oleh karena itu guru ikut bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan yang berbasis teknologi didalam kelas yang diampunya. Guru diharapkan untuk menerapkan dan melibatkan siswa dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran

Pengembangan profesional guru harus ditingkatkan, hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan global yang mengharuskan pendidikan di sekolah-sekolah berbasis teknologi .

UNESCO akan memetakan standar pelatihan guru yang ada dan program pelatihan untuk  TIK –CST dari keahlian dalam upaya untuk merampingkan upaya global di bidang umum. Pengembangan UNESCO ICT-CST telah menjadi contoh kerjasama antara publik-swasta yang strategis untuk pembangunan yang lebih baik . Read More

unduhanA.PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa di era globalisasi dewasa ini, teknologi dan informasi dianggap sesuatu yang harus ada bahkan “wajib” ada keberadaannya. Cobalah kita melihat sejenak bagaimana orang sekarang tidak bisa dilepaskan dari benda-benda berteknologi canggih misal HP, smartphone, tablet dan sebagainya. Mereka asyik dengan gadjetnya masing-masing tidak peduli di kereta api, bus, halte di restoran dan tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya, tidak bertegur sapa atau hanya basa-basi saja.

Teknologi, informasi dan komputer ( TIK ) merupakan suatu kebutuhan pokok dimasa sekarang lebih-lebih di masa datang. Sehingga sekolahpun harus ikut menerapkan TIK dalam pembelajaran. Tapi pada kenyataannya tidak semua sekolah mampu menerapkan TIK sebagai basis pada sistem pembelajarannya, disebab beberapa faktor ,untuk itu diperlukan suatu menejemen dan strategi yang tepat agar penerapan TIK dalam pembelajran di sekolah dapat sejalan dengan tujuan yang telah di rumuskan.

B. PEMBAHASAN

  1. 1. Perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi (Evi Maria,2014). Sedangkan UNESCO (2004) mendefinisikan bahwa TIK adalah teknologi yang di gunakan untuk berkomunikasi, membuat, mengelola dan mendistribusikan informasi. Dalam dunia pendidikan biasanya di sebut e- learning. Sedangkan masyarakat umum biasanya mendefinisikan TIK secara sederhana yaitu segala hal yang berkaitan dengan komputer ,internet, handphone ,tablet, radio, televisi dan sebagainya.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat telah memberikan pengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat, yang pada akhirnya dunia pendidikan pun dituntut untuk mengikuti perkembangan yang terjadi pada masyarakat. Sehingga TIK harus dikuasai semua pelaku  dalam dunia pendidikan. Menguasai ICT/TIK berarti kemampuan untuk memahami dan menggunakan alat TIK secara umum ( Fibriani:2014 ).

  1. TIK Sarana Paling Cepat Mendapatkan Ilmu Pengetahuan

   Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa pemenang atau orang yang pintar hari ini adalah orang yang dapat menguasai informasi. Pernyatan tersebut tidaklah salah , karena seorang biasanya dianggap pintar jika mengusai ilmu pengetahuan, Sedangkan fungsi ilmu pengetahuan adalah menetapkan hukum-hukum umum yang meliputi perilaku kejadian (Sutama:2012).

Orang yang mengusai ilmu pengetahuan adalah orang yang di anggap dapat menetapkan sesuatu keputusan berdasarkan ilmu yang ia miliki. Hal tersebut sesuai dengan sebuah ungkapan “ siapa cepat dia dapat”. Cobalah kita perhatikan 20 atau 30 tahun yang lalu, berapa hari kita harus mengirim sebuah pesan yang terdiri hanya tiga baris saja hanya untuk memberitahukan berita duka kepada sanak saudara di seberang pulau, bisa 3 hari atau bahkan lebih. Tapi sekarang mungkin cuma 3 detik saja. Itu semua tidak lain dan tidak bukan karena perkembangan TIK.

Read More

 revAkhir-akhir ini kita sering mendengar  kalimat  “revolusi mental”. Banyak di antara mereka yang sering berbicara apa itu yang mereka disebut revolusi mental tetapi tidak terlalu paham bahkan mungkin tidak paham apa itu revolusi mental, terbukti di beberapa media orang -orang tersebut berbeda- beda dalam mengartikan atau menerjemahkan gabungan kata – kata tersebut. Bahkan saya sendiri pernah mengikuti sebuah seminar “ilmiah” dimana seorang pembicara sering mengulang ulang gabungan kata tersebut bahkan ia berusaha mengartikan kata-kata tersebut dengan sangat pede sekali,tanpa ada rujukan dari sumber-sumber ilmiah, terbukti saat ada peserta ilmiah bertanya mengenai pengertian kongkrit revolusi mental ,ia menjawab sekenanya saja, ora jawa bilang tanya ngalor jawabnya ngidul.

Saya mencoba membuka kamus bahasa indonesia untuk mengartikan kata kata tersebut.

Pertama Revolusi adalah Perubahan ketatanegaraan , pemerintahan atau keadaan sosial yang dilakukan dengan jalan kekerasan (KBBI ,Drs. Suharso : 2005 ), ada lagi pengertian lainnya misal Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi), sedangkan mental adalah terpelanting (KBBI. Drs Suharso : 2005).Mungkin yang dimaksud kata mental dalam revolusi mental adalauh mentalitas yang artinya keadaan batin, cara berfikir dan perasaan. (KBBI. Drs. Suharso : 2005), dalam ilmun psikolagi berarti jiwa atau kejiwaan, jadi kata mental mengandung arti homograf .

Seandainya dua kata tadi digabung maka pembaca bisa menebak nya sendiri, kalu saya mungkin bisa di artikan merubah keadaan bati ,cara berfikir dan perasaan dengan cepat (dengan keras penuh tekanan),  kira-kira begitu artinya.Seandainya arti yang saya tawarkan tadi dapat diterima maka konsekwensinya bertentangan dengan norma atau mungkin akan bertentangan dengan psikologi.

Coba renungkan pertanyaan ini sodara apakah merubah perasaan atau cara berfikir seseorang dapat dilakukan dengan cepat seperti membalikkan telapak tangan? tentu jawabnya tidak bisa, semua butuh proses dan waktu yang mana kita tidak akan tau waktunya.

 Sodara-sodara bukannya saya tidak mendukung suatu perubahan, tapi marilah kita berusaha untuk bersikap berbicara yang ilmiah bukan hanya untuk mencari popularitas saja. Ada seseorang pernah berkata “ORANG ITU BELUM DIKATAKAN JUJUR JIKA DI DALAM HATINYA MASIH TERSELIP KEINGINAN UNTUKMENJADI  POPULER”.

unduhanNah, sebentar lagi lebaran haji atau Idul Adha, yang pada hari itu kita tidak lepas dari suatu kegiatan yang bernama menyembelih.Oleh karena itu saya mau berbagi ni tentang cara penyembelihan yang shahih.

Dalam tulisan ini saya hanya menyampaikan mengenai leher saja. Begini, bahwa dalam leher binatang sembelihan misal sapi atau kambing dibagian lehernya ada bagian-bagian yang perlu anda semua  ketahui

 

 

Pada bagian leher hewan ada 4 hal:
1-2.   Al-Wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan
3.      Al-Hulqum yaitu tempat pernafasan.
4.      Al-Mari`, yaitu tempat makanan dan minuman.
Rincian hukumnya terkait dengan penyembelihan adalah:
– Bila terputus semua maka itu lebih afdhal.
– Bila terputus al-wadjan dan al-hulqum maka sah.
– Bila terputus al-wadjan dan al-mari` maka sah.
– Bila terputus al-wadjan saja maka sah.
– Bila terputus al-hulqum dan al-mari`, terjadi perbedaan pendapat. Yang rajih adalah tidak sah.
– Bila terputus al-hulqum saja maka tidak sah.
– Bila terputus al-mari` saja maka tidak sah.
– Bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)
Nah selamat ber Qurban

12477

Segala puji bagi Allah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sering mendengar ada yang beranggapan sial dengan nama anaknya. Buktinya, ketika anaknya di usia belia sakit-sakitan, maka ada yang beranggapan sial bahwa itu karena namanya yang terlalu berat. Ada juga yang menganggap bahwa karena salah nama, anaknya jadi bandel. Intinya, nama anak akhirnya yang disalahkan.

Beranggapan sial bukan hanya seperti di atas, banyak contohnya. Ujung-ujungnya beranggapan sial itu mengarah pada kesyirikan.

 

Memahami Thiyaroh atau Tathoyyur

Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.

Namun maksud thiyaroh di sini adalah umum, bukan hanya dengan burung saja. Thiyaroh adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu. Read More

Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung. Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam. Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6) Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban” Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Read More

SHOLATBanyak para muslimin tidak mengetahui tentang syarat , rukun, wajib dan sunnah sholat… oleh karena itu di sini saya tampilkan ringkasan mengenai ke empat hal tersebut yang sesuai untunan Rosulullohu Shallallahu Alaihi wassalam… RED-)

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Setelah membahas tentang definisi, hukum dan syarat-syarat shalat pada tulisan sebelumnya, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas masalah rukun, wajib, dan sunnah-sunnah dalam shalat. Tulisan ini kami sarikan dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala.

Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat adalah ibadah yang terkandung didalamnya berbagai macam bacaan/ucapan maupun perbuatan. Ucapan maupun perbuatan dalam shalat dapat digolongkan menjadi tiga: rukun, wajib, dan sunnah.

Rukun: Jika ditinggalkan maka batal shalatnya baik secara sengaja maupun tidak, atau batal rekaat yang terlewat rukun tersebut sehingga rekaat yang berikutnya menempati kedudukan rekaat tersebut – akan dijelaskan berikutnya- [1].

Wajib: Jika menginggalkannya secara sengaja maka batal shalatnya. Jika tidak sengaja maka tidak batal, namun harus menggantinya dengan sujud sahwi.

Sunnah: Tidak batal shalat jika ditinggalkan baik secara sengaja maupun tidak. Namun, mengurangi kesempurnaan shalat.

Rasulullah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat” [2]. Yaitu shalat secara sempurna baik rukun, wajib maupun sunnah-sunnahnya.

Rukun-Rukun Shalat (14)

1. Berdiri (dalam shalat fardhu)

Allah ta’ala berfirman,

وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. al Baqarah: 238)

Merupakan suatu kewajiban dalam shalat fardhu untuk berdiri. Hal ini juga bersandar pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring.” [3]. Apabila tidak mampu berdiri karena sakit atau yang lainnya maka shalat dengan semampunya. Jika shalat dibelakang imam yang duduk (karena sakit atau yang lainnya), maka ikut duduk [4]. Dalam shalat nafilah (sunnah) tidak mengapa dengan duduk karena kadang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam shalat nafilah dengan duduk meskipun tidak ada udzur [5]. Read More