alam ghoib

ALAM GHOIB

Mempercayai yang ghoib adalah salah satu dari keimanan. Tidaklah disebut orang beriman bila ia tidak percaya pada yang ghoib sebagaimana firman Alloh :

الم(1)ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِي نَ(2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُون َ(4) أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ (5)

Alif, Laam, Miim. Kitab Al-Quran ini, tidak ada keraguannya padanya bagi mereka yang bertaqwa.(yaitu ) mereka yang beriman kepada yang ghaib, dan mendirikan sholat serta membelanjakan (mendermakan) sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan juga orang-orang yang beriman kepada Kitab “Al-Quran” yang diturunkan kepadamu (Wahai Muhammad), dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelum enkau, serta mereka yakin akan (adanya) hari akhirat . Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka,

dan merekalah orang-orang yang beruntung.

(Qs,Al Baqoroh:1-5)

Sesungguhnya tak ada seorangpun dilangit dan dibumi yang mengetahui hal yang ghoib dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Hanya Alloh lah yang tahu, dalam Al Qur’an Alloh berfirman :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ(65)

Katakanlah (Muhammad): Tiada sesuatupun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib melainkan Allah!” Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan

(QS. An Naml : 65 )

Dan dalam Surat Al Luqman : 34, As Sajdah : 6, Al Baqarah : 33 Alloh juga menyebutkan akan hal tersebut. Ghoib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat olah manusia (neraka, surga, alam kubur,hari kiamat, alam jin dsb). Manusia tidak dapat melihat hal-hal yang ghoib, bahkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم pun tidak dapat mengetahui yang ghoib sebagaimana firman Alloh :

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُون َ(50)

Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) perbendaharaan Allah ada di sisiku, dan aku tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib; aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahwasa aku malaikat, aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”. Katakanlahlah : “Adakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?Apakah kamu tidak memikirkan(nya)? ” (Qs. Al An’am : 50)

Namun demikian sebagai mukzijat , Rosululloh صلى الله عليه وسلم bisa melihat yang ghoib, itupun dengan izin Alloh, seperti firman –Nya

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا(26)إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا(27)

Dia mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun yang ghoib itu. Kecuali pada Rosul yang diridhoi Nya maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga

( malaikat ) didepan dan dibelakangnya (Qs. Al Jinn : 26-27)

Sebagai contoh Rosululloh صلى الله عليه وسلم dapat melihat surga dan neraka dalam perjalanan Isro’ Mi’roj, bisa melihat keadaan masa yang akan datang, itupun atas izin Alloh sebagai mukzijat bagi Rosululloh صلى الله عليه وسلم..

Kalau seorang Rosul صلى الله عليه وسلم saja tidak bisa melihat yang ghoib lantas bagaimana orang –orang yang mengaku melihat yang ghoib ( ramalan bintang , masa depan, karir orang lain, dsb) itu semua bohong. Dewasa ini banyak sekali terjadi fenomena orang-orang yang menampilkan diri sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghoib contohnya menjawab pertanyaan tentang jodoh, bisnis, nasibnya, rezeki dsb. Di jaman modern seperti ini kata “dukun” jarang digunakan bahkan hampir semua orang dengan serta merta menolak, tapi Iblis dan pengikutnya tidak berhenti untuk menggoda manusia dengan cara yang betul-betul licik dan penuh tipudaya, kelihatan suatu kebaikan tapi ternyata suatu kesesatan yaitu dengan cara nama “dukun” diganti dengan nama paranormal, tabib, atau mungkin “orang pintar” dan pakaian yang semula yang dipakai hitam diganti dengan putih-putih serta ikat kepala diganti dengan sorban atau peci dan bertingkah laku dibuat seakan-akan orang sholeh tentu saja orang akan percaya apalagi kalau mantra-mantranya atau bacaannya diganti dengan bacaan al Qur’an atau sholawat, orang pasti akan berduyun-duyun menganggap orang itu adalah seorang wali. Tidak ada yang dapat melihat yang ghoib, kalau toh bisa pasti itu bantuan dari jin atau setan itu sendiri sehingga dusta bila itu dihasilkan dari latihan atau olah jiwa .

Diantara mereka ada yang mengaku dapat melihat jin dalam bentuk aslinya dan sebangsanya .Padalah melihat jin dalam bentuk aslinya adalah suatu kebohongan sebagaimana firman Alloh :

يَابَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27)

Wahai anak-anak Adam! Janganlah kamu diperdayakan oleh Syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapa kamu dari Syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat mereka (yang sebelum itu tertutup). Sesungguhnya dia ( Iblis) dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu

pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

(Qs. Al A’raf : 27)

Firman Alloh dalam ayat ini “sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa manusia tidak dapat melihat jin, yaitu pada bentuk yang asli dan hanya bisa dilihat apabila jin itu telah berubah bentuk dari wujud aslinya(menjadi pocong ,tuyul, gendruwo, wewegombel dsb).

Imam Syafi’I Rohimakumulloh dalam kitab Manaqibnya berkata “siapa yang mengaku melihat jin maka kami batalkan persaksiannya (murtad) terkecuali bila ia seorang Nabi”. Ibnu Hajar Rohimakumulloh ( ulama besar ahli hadist ) berkata mengomentari perkatan Imam Syafi’I Rohimakumulloh. “Ucapan Al Imam As Syafi’I ini ditujukan kepada orang yang mengaku melihat jin dalam bentuk yang asli adapun kalau ada yang mengaku melihat jin setelah berubah keberbagai bentuk hewan (atau mungkin pocong,tuyul, wewegombel,gondoruwo vampir drakula dsb – red) misalnya maka tidaklah dianggap cacat persaksiannya. Sungguh banyak dan tersebar berita yang mengabarkan perubahan jin tersebut keberbagai bentuk(Kitab Fathul bari jilid 6, hal 414).

Setiap orang dapat melihat jin yang telah berubah dari bentuk aslinya , bahkan tidak menutup kemungkinan anak kecilpun bisa melihatnya dan untuk melihat jin dalam bentuk jelmaan tidak perlu latihan / olah ilmu dengan bacaan – bacaan tertentu ( sholawat 7000 x / surat Al Ikhlas 333 x, dsb). Dan perlu diketahui apabila jin telah memperlihatkan diri dengan penjelmaannya yang bermacam-macam dapat dipastikan jin tersebut mempunyai maksud tertentu ingin menjerumuskan manusia ,dan inilah yang terjadi sekarang ini serta banyak yang tidak mengetahui walaupun ia seorang ustad sekalipun / kyai Haji. Kisah nyata yang baru saja terjadi adalah “agama Lia Eden” di Jakarta, Lia Eden menganggap bahwa makhluk ghoib yang datang pada dirinya adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu dan akhirnya Lia Eden dan pengikutnya pun tersesat dan jauh dari syari’at Islam. Hanya Nabilah yang bisa melihat jin dalam bentuk aslinya sabagaimana sabda beliau:

إنَّ عَدُوَّ ا لله إ بْلِيْسَ,جَاءَ بِشِهَا بٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وِجْهي فَقُلْتُ:أعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ,ثَلا ثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قُلْتُ: ألْعَنُكَ بِلَعْنَةِ الله التَّامَّةِ, فَلَمْ يَسْتَأخِرْ, ثَلا ثَ مَرَّ اتٍ, ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ, وَالِله ! لَوْلادَعْوَةُ أَخِيْنَا سُلَيْمَانَ َلأصْبَحَ مُوْ ثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِ لْدَانُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ

“Sesungguhnya musuh Alloh, Iblis datang dengan bola api yang hendak dia letakkan pada wajahku. Aku katakan “Aku berlindung kepada Alloh darimu:, tiga kali, kemudian aku berkata: “ aku melaknatmu dengan laknat Alloh yang sempurna yang pantas engkau dapatkan”, tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya.Demi Alloh seandainya bukan karena do’a saudara kami ( Nabi ) Sulaiman niscaya ia jumpai dalam keadaan terikat hingga dapat dipermainkan oleh anak-anak Madinah “

(HR. Muslim no.1211 )

Dalam hadist diatas menunjukkan bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم dapat melihat Iblis dalam bentuk aslinya. Sebagaimana Rosululloh صلى الله عليه وسلم bisa melihat Malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya dalam menerima wahyu.

Meminta bantuan kepada jin untuk mencelakai seseorang atau melindungi-nya dari kejahatan orang-orang yang jahat , hal ini termasuk tidak dibenarkan dan harom hukumnya sebagaimana firman Alloh :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنْ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنْ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا(6)

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki jin, tetapi mereka ( jin ) menjadikan mereka ( manusia ) bertambah sesat,”.

(Qs. Al Jinn : 6)

Bahkan meminta bantuan pada jin dalam hal diatas termasuk dosa syirik. Barang siapa yang melakukan demikian niscaya tidak akan diterima sholatnya, puasanya dan ibadah lainya ( haji, zakat, shodaqoh dll ) dan itu suatu kerugian yang besar, berdasarkan firman Alloh :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ (65)

Jika kamu melakukan kesyirikan, niscaya amalmu akan terhapus”( Qs. Az Zumar : 65 )

Kalau minta bantuan pada jin untuk melindungi diri dari musuh atau untuk menangkal kejahatan dari orang lain yang dikirim kepada kita saja syirik apa lagi kalau digunakan untuk mencelakai orang lain. Sebagaiman perkataan para Ulama,“Barang siapa melakukan demikian , tidak disholatkan jenazahnya ( bila ia mati), dan tidak dikuburkan dipekuburan orang-orang Islam “( Kitab Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/162 – 163 )

Orang masih berdalil dengan berkata itu adalah karomah dari Alloh yang diberikan kepada “wali”Nya, padahal Wali itu ada dua yaitu wali Alloh dan Wali setan. Padahal para ulama telah menjelaskan ciri – ciri karomah diantaranya adalah :

  1. Terjadi paling tidak satu kali
  2. Tidak bisa dilakukan berulang-ulang
  3. Terjadi pada saat dibutuhkan sekali atau darurat
  4. Tidak bisa dipelajari atau diturunkan atau diajarkan kepada orang lain

Kalau ilmu yang dianggap orang sebagai karomah terjadi atau dilakukan berulang-ulang oleh seseorang atau mungkin bisa dipelajari dengan cara misalnya membaca dzikir-dzikir tertentu sampai 10.000 X bisa kebal senjata atau baca sholawat 7000 X bisa melihat penampaan makhluk halus atau membaca Al Qur’an dengan cara-cara yang Rosulullah صلى الله عليه وسلم tidak ajarkan / tuntunkan pada umat Islam, atau melakukan ritual puasa yang tidak ada sunnahnya dari Rosulullah صلى الله عليه وسلم maka itu bukan karomah tapi ilmu setan, walaupun yang dilakukan kelihatan Islami. Itu semua adalah termasuk bid’ah sebagaimana sabda Rosulullah. صلى الله عليه وسلم:

فَإِ نََّ أَ صْدَقَ ا لْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَ خيْرَ الْهَدْيِ هَدْ ي ُمُحَمْد ٍصَلَىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم ُ وَشَرُّّاْلأُ مُوْرِمُحْدَ ثَا تُهَا وَ كُلَّ مُحْدَ ثَةٍ بِدْعَة ٌوَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلا لَة ٌوَ كُلَّ ضَلا لَةٍ فِي النَّار

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah,dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallohu alaihi wa salam , sejelek-jelek perkataan adalah yang diada-ada,setiap yang diada-ada adalah bid’ah dan setiap bid’ahهitu sesat dan setiap kesesatan tempatnya neraka “

Dan ada satu ciri lagi apakah ilmu itu karomah atau tidak, lihat orang yang mempunyai ilmu itu bagaimana kehidupan sehari-hari, apakah dia orang yang betul-betul taat beribadah,beriman melaksanakan sunnah Rosululloh misalnya dengan sholat wajib berjamaah ke masjid, menutup aurot dari pusar sampai lutut (bagi laki-laki ),seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan ( wanita ), setiap hari tidak lupa membaca Qur’an, ikut pengajian di Masjid dan keluarganya diajak untuk taat pada agama misalnya diajak kepengajian / istrinya dan anak-anak perempuannya disuruh berjilbab serta rumah tangganya selalu dibuatnya sesuai dengan syariat agama dan sebagainya masih banyak lagi. Kalau orang tersebut (yang mempunyai ilmu) tidak melakukan hal-hal salah satunya diatas berarti dia tidak mendapatkan karomah, karena karomah itu diberikan Alloh kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa, taat beribadah, karena Alloh tidak akan memberikan Ilmu Nya kepada orang-orang yang malas beribadah dan taat.

Dapat diambil kesimpulan bahwa orang tersebut mempelajari ilmu satan. Ingatlah setan itu datang kepada manusia membawa keburukan yang dibungkus dengan kebaikan sehingga manusia tidak sadar bahwa kebaikan yang selama ini dia lakukan bukan dari Islam melain dari setan, dan manusia akan sadar bila ia telah berada diujung jurang kebinasaan atau bila Alloh berkehendak memberinya hidayah.

Beribadah kepada Alloh (puasa, zakat, doa, dzikir, sholat dsb) agar diterima oleh Alloh syaratnya ada dua yaitu :

  1. Ikhlas karena mengharap ridho Alloh
  2. sesuai dengan tuntunan Rosulullah صلى الله عليه وسلم sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan dari ‘Aisyahرضي الله عنها :

مَنْ عَمِلَ عَمَلا َلَََيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُ نَا فَهُوَ رَ دُُّ

“Barang siapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada perrintah dariku maka amalan tersebut tertolak “( HR. Muslim no.1718 )

Bila tidak ada satu diantara dua syarat tersebut maka ibadahnya ditolak.Sebagai contoh misalnya dzikir dengan bilangan sampai ribuan dan ditentukan jumlahnya (1000 X, 7000 X, dst) Rosulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah mencontohkan dan para sahabat رضى الله عنهم pun tidak melakukannya padahal mereka adalah orang-orang yang sholeh penghuni surga, berarti dzikir dan ibadah itu tertolak dan dikatakan “bid’ah

Untuk mengetahui apakah ilmu atau amalan tersebut adalah benar atau salah menurut syari’at maka caranya hanya satu yaitu menuntut ilmu syar’i / agama dengan datang kepengajian seminggu sekali atau dengan membaca buku-buku agama buku-buku hadist, karena Al Qur’an itu terdiri dari 6000 sekian ayat dan hadist Rosululloh jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan. Itu semua tidak akan dapat dipelajari manusia secara tuntas walaupun setiap hari baca buku atau ikut pengajian, apalagi yang pengajiaannya sebulan sekali atau baca qur’annya seminggu sekali atau mungkin sama sekali tidak na’uudu billihi min dzalik. Hanya Alloh lah yang berhak atas semua yang ghoib.

Agama Islam Telah Sempurna Sejak Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Wafat. Dari Hal-Hal Yang Kecil Sampai Hal Yang Besar ,Ibaratnya Urusan Dari Buang Hajat Sampai Urusan Yang Besar ( Sholat ) Telah Rosululloh Ajarkan Pada Kita Dan Kita Cukup Mengikutinya Saja Tanpa Harus Ditambah-Tambahi Lagi Atau dikurangi .Insya Alloh Kita Akan Selamat Dunia Dan Akhirat. Wallohu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: