Bolehkah Memberi Gelar Syahid pada Seseorang?

Saudaraku … Beberapa saat lalu, kita mendengar berita kematian saudara kita -Amrozi cs- yang dihukum mati karena kasus pidana bom bali yang telah menewaskan sekitar 200 orang. Setelah eksekusi yang dilakukan di Lembah Nirbaya-Nusakambangan pada hari Ahad, pukul 00.15, berbondong-bondong kaum muslimin terutama yang pro Amrozi cs, melayat ke kediaman terpidana mati tersebut. Sampai-sampai sebagian dari pendukung membuat spanduk untuk menyambut kedatangan mereka dengan tulisan Selamat Datang Syuhada’. Yang mengurus pemakamann mereka pun memakai ikat kepala bertuliskan Keluarga Syuhada’. Bahkan daerah pekuburannya pun diberi nama Makam Pejuang Islam. Sudah tepatkah Amrozi cs disebut demikian? Sudah tepatkah saudara kami ini -semoga Allah mengampuni kesalahan mereka- menyandang gelar syahid?

Janganlah terburu-buru dalam mengatakan semacam ini. Seharusnya yang lebih berhak menyandang gelar demikian adalah sahabat sekaligus Amirul Mukminin yaitu Umar dan Utsman, yang mereka benar-benar mati syahid di jalan Allah. Kenapa kita tidak mengatakan demikian kepada kedua sahabat yang mulia ini?! Namun sangat berani dan sangat lancang sekali kita mengatakan demikian kepada orang-orang yang belum dipastikan mati syahid atau bahkan masuk surga dengan gelar Syahid.

Tidakkah kita memperhatikan bahwa Ahli Hadits nomor wahid yaitu Bukhari membawakan Bab dalam kitab shohihnya ‘Tidak boleh mengatakan si A syahid’. Perhatikanlah potongan hadits yang dibawakan oleh Bukhari dari sahabat Abu Hurairah :

Allah yang lebih mengetahui siapakah yang benar-benar berjihad di jalan-Nya dan Allah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya.” (HR. Bukhari)

Apa maksud hadits ini? Marilah kita melihat tafsiran dari seorang pakar hadits berikut.

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, “Perkataan Bukhari ini ‘Tidak boleh mengatakan si A syahid, maksudnya adalah tidak boleh memastikan si A syahid kecuali berdasarkan wahyu atau dalil.”

Hal ini juga dikatakan oleh Al ‘Aini dalam Umdatul Qori. Sekarang apakah memang ada wahyu dari Allah kepada orang-orang yang mengatakan demikian?

Renungkanlah saudaraku! Apakah memang kita boleh menyebut mereka dengan gelar syahid sedangkan tidak ada wahyu sama sekali tentang hal ini? Apakah yang mengatakan seperti ini seperti Ustadz Chozin -kakak kandung Amrozi- dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (semoga Allah memberi petunjuk dan taufik pada mereka) telah mendapatkan wahyu tentang hal ini? Semoga mereka bisa merujuk pada perkataan ulama yang lebih memahami hadits ini dengan benar. Semoga Allah memberi taufik pada mereka.

Janganlah kita melangkahi ilmu Allah yang lebih mengetahui isi hati mereka! Janganlah sampai lisan ini, cepat mengeluarkansepatah dua-kata begitu saja, padahal sebenarnya Allah-lah yang lebih mengetahui isi hati mereka dan lebih tahu mereka syahid ataukah tidak! Janganlah sampai ucapan ini malah menjerumuskan kita dalam jurang kebinasaan!

Alangkah indahnya jika kita mau merenungkan perkataan Ath Thohawiyah dalam kitab Aqidahnya :

Kami berharap kepada orang beriman yang berbuat kebajikan, mudah-mudahan mereka diampuni (atas kesalahan yang mereka diperbuat) dan semoga Allah memasukkan mereka dalam surga dengan rahmat-Nya. Namun kami tidak merasa aman bahwa mungkin juga mereka mendapat siksa (karena sebab dosa yang mereka perbuat). Kami juga tidak bersaksi bahwa mereka akan masuk surga.

Kami hanya bisa mendo’akan, semoga Allah mengampuni kesalahan mereka, namun kami takut kesalahan ini akan membuat mereka disiksa. Kami juga berusaha tidak membuat mereka berputus asa dari ampunan Allah.

Inilah sikap muslim yang tepat terhadap saudaranya. Dia tidak memastikan saudaranya masuk neraka karena sebab dosa yang diperbuat. Juga dia tidak memastikan saudaranya masuk surga -semisal mengatakannya syahid-. Namun, kalau saudara kita ini adalah orang yang gemar melakukan ketaatan, maka kita do’akan semoga mereka meraih surga-Nya. Inilah aqidah seorang muslim yang benar.

Semoga Allah memberi petunjuk padamu, saudaraku ….

Kami mendo’akan pula agar saudara kami -Amrozi cs- diberi ampunan oleh Allah, dirahmati, dan diberi kemudahan di alam kubur dan akhirat kelak. Semoga kaum muslimin diberi petunjuk oleh Allah untuk tidak meneruskan jejak mereka yang keliru.

Silakan lihat fatwa tentang hal ini di sini. Dan silakan lihat tulisan saudara kami Al Fadhil Ari Wahyudi di sini.

Disusun di Pangukan, Sleman saat malam hari, 11 Dzulqo’dah 1429

Abu Rumaysho [Muhammad Abduh Tuasikal]

1 comment
  1. handoko82 said:

    Numpang ngcopy Om!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: