Sarkozy Desak Parlemen Perancis Untuk Memberlakukan RUU yang Melarang Cadar

Presiden Perancis Nichola Sarkozy mendesak Parlemen Perancis untuk memberlakukan rancangan undang-undang pelarangan cadar, dan menekankan adanya undang-undang baru yang mampu melawan konfrontasi hukum apapun di Pengadilan.

Sarkozy mengatakan dalam pidatonya di depan para anggota Majelis Nasional, “Sungguh pakaian ini tidak dapat diterima di Perancis,” seperti yang diungkapkan Perdana Menteri Perancis Francois Fillon tentang dukungannya agar diberlakukannya rancangan undang-undang yang melarang cadar.

RUU tersebut melarang keras mengenakan niqab dan burqa (cadar) di tempat-tempat umum dengan tuduhan pelecehan dan penghinaan terhadap hak-hak perempuan. RUU tersebut telah menimbulkan perdebatan sengit di Perancis.

Dalam konteks yang sama, ketua komite parlemen Perancis yang juga merupakan wakil komunis dalam membahas RUU, Andre Green mengatakan, “Bahwa langkah berikutnya adalah wajibnya mengeluarkan undang-undang larangan tersebut, tetapi banyak anggota parlemen dan aktivis yang mengungkapkan keraguan mereka tentang kemungkinan bahwa polisi akan memaksa perempuan untuk melepaskan cadarnya.”

Green menekankan, “bahwa yang pasti kita harus menguasai semua hal yang dapat membangkitkan prinsip-prinsip negara kita dan berbuat, di mana umat Islam di Perancis sedang gencar-gencarnya memperjuangkan dan mempublikasikan simbol-simbol Islam dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai negara ini.”

Di sisi lain, sejumlah walikota di Perancis memperingatkan bahwa larangan tersebut sulit untuk diterapkan dan sebagian lagi mengkhawatirkan kalau larangan tersebut akan mendorong para wanita untuk tinggal di rumah untuk menghindari dari membuka wajah mereka.

Para pengecam mengatakan tentang rancangan undang-undang tersebut, “Bahwasanya larangan semacam ini sangat memungkinkan untuk ditentang dan disangkal dengan alasan bahwa hal itu melanggar hak asasi manusia dan kebebasan beragama.”(itd/an)

alsofwah.or.id

2 comments
  1. MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH
    .
    SUMBER :
    Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

    Jazakalloh infonya…. sangat bermanfaat

  2. Di dalam Kitab Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin ibn Muhammad Al-Mahalli رحمه الله dan Jalaluddin ibn Abi Bakrin as-Suyuthi رحمه الله; digunakan di hampir seluruh dunia dan pondok-pondok pesantren di Indonesia sejak masa dahulu; disebutkan:

     Tafsir QS. An-Nuur : 31: وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا (…dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya), yaitu :
    “wajah dan kedua telapak tangan, maka dibolehkan terlihat lelaki asing jika tidak takut terjadi fitnah; pada satu pendapat. Pendapat kedua, diharamkan terlihat (wajah dan telapak tangan) karena dapat mengundang fitnah, (pendapat ini) kuat untuk memutus pintu fitnah itu.”

     Tafsir QS.Al-Ahzaab: 59 tentang jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…), yaitu :
    “Bentuk jamak dari jilbab, yaitu pakaian besar yang menutupi perempuan, yaitu menurunkan sebagiannya ke atas wajah-wajah mereka ketika keluar untuk suatu keperluan hingga tidak menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: